WEBINAR VISION (VIRTUAL INDUSTRY INNOVATION)

“Tantangan dan Peluang Ilmu Kimia dalam Pengembangan Katalis Industri Petroleum dan Petrochemical”

Jakarta. Rabu (27/07/2022), Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan acara “Webinar Vision” dengan media Zoom Meeting. Acara ini bertemakan “Tantangan dan Peluang llmu Kimia dalam Pengembangan Katalis Industri Petroleum dan petrochemical”. Webinar dilaksanakan sebagai bentuk kerjasama prodi kimia, HIMKA, dan industri yang dilaksanakan secara berkala. Narasumber webinar ialah Wawan Rustyawan, Sr Specialist Process Dev. Research-RTI Pertamina dan dimoderatori oleh Isalmi Aziz, MT (Dosen Prodi Kimia). Peserta webinar terdiri dari 140 orang yang terdiri dari mahasiswa kimia, dosen, dan undangan.

Webinar dimulai pada pukul 08.30 WIB. Diawali pembukaan acara dipimpin oleh Agustina Vidiawati (Kimia 2020), dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Nabilah Amanda Kusuma (Kimia 2021), dan dilanjutkan sambutan oleh kepala progam studi kimia Dr. La Ode Sumarlin, M.Si.

Acara inti diawali dengan pembacaan CV narasumber oleh moderator dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narsumber. Dilanjutkan pemaparan materi disampaikan oleh narasumber. Dalam pemaparannya, disampaikan mengenai pengembangan teknologi proses dan katalis di Indonesia. Disampaikan bahwa dalam potensi peningkatan margin melalui substitusi impor, dilakukan dengan pemisahan melalui metode fisika, dan konversi katalitik melalui metode kimia. Dari ekonomi global melalui sudut pandang katalis, kebutuhan dunia akan katalis membutuhkan sebanyak $ 21 milyar. Feedback sebanyak $ 11-15 trilyun, dengan nilai yang dibangkitkan katalis atau revenue 700 kali. Untuk pemasokan katalis 80% dari USA, dimana sebenarnya hanya 40% yang dijual bebas di pasaran, sedangkan untuk 60% untuk diproduksi sendiri. Sedangkan, untuk di Indonesia itu sendiri kebutuhan katalis sebanyak $ 500 juta, dimana hampir 95% dipasok dari luar negeri. Kemandirian katalis di Indonesia sudah ada sejak zaman sumpah pemuda, yang mana Prof.Subagjo dengan direktur pengolahan atau refinery, katalis NHT bekerja sama dengan PT Pertamina. Berikut ini linimasa pengembangan katalis sebagai berikut:

  • Pada tahun 1999 (evaluasi dan seleksi katalis) : ARHDM RU VI, ISOMAR RU IV, PENEX RU VI
  • Pada tahun 2003 – 2011(Riset Katalis NHT PK 100 HS) : formulasi katalis, uji coba Hydrabon RU II
  •  Pada tahun 2010 – 2014 (Riset Katalis Green Diesel (HBD) Gen 1) : formulasi katalis, uji coba DHDT RU II
  • Pada tahun 2016 – 2018 (Riset Katalis) : Katalis Isomerisasi, Katalis Si Trap, Katalis HBD Gen 2, Katalis Treating, Diesel PK 230 TD Metal Removal, Katalis lainnya untuk Reside, Naphtha Katalis FCC.
  • Pada tahun 2019 – 2021
  • Uji coba berbagai katalis menghasilkan : D-100 di RU II & RU IV J 2.4 di TDHT RU IV.
  • Uji Coba Katalis di LCO Treater RU VI: Kerosin to Avtur, Pertadex S 50 ppm dan 10 ppm.
  • Pada tahun 2022 – 2006 (Proyeksi Strategi Nasional (PSN)) : Biohidrokarbin Demoplant, dan Pabrik Katalis Merah Putih.

Sesi akhir kegiatan diisi dengan diskusi interaktif. Dengan adanya hubungan yang erat antara program studi kimia dan bidang industri PT Pertamina, peserta webinar sangat antusias mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang muncul yaitu mengenai perkembangan green katalis di pertamina, pengembangan katalis oil dan gas berbasis material organik, ketentuan menggunakan katalis, perbedaan green revenery dan revenery biasa, tingkat efisiensi katalis merah putih, dan lain – lain.

Sebelum ditutup sesi diskusi, moderator menyerahkan sertifikat kepada narasumber secara simbolis sebagai ucapan terimakasih dan penghargaan bagi narasumber.

Webinar  ini ditutup dengan pembacaan doa oleh Maulana Hasan Al Ghifari (Kimia 2021), Selanjutnya pada penutupan acara dilakukan sesi foto bersama dan penutupan. (Himka)